Net zero emissions (NZE) adalah situasi dimana jumlah emisi karbon yang dilepaskan ke atmosfer tidak melebihi jumlah emisi yang mampu diserap oleh bumi. Untuk mencapai net zero emission, diperlukan sebuah transisi dari sistem energi yang digunakan sekarang ke sistem energi bersih (clean energy) dengan tujuan mencapai kondisi seimbang antara aktivitas manusia dengan keseimbangan alam (1). Paris Climate Agreement (2015) mewajibkan negara maju dan industri mencapai Net zero emission pada tahun 2050. Net zero emission membatasi kenaikan suhu global hingga 1,5°C diatas pre-industrial levels. Emisi perlu dikurangi sebesar 45% pada 2030 dan mencapai net zero pada tahun 2050 (2).
Beberapa upaya untuk mendukung NZE adalah dengan mengendalikan jejak karbon, yaitu mengurangi jumlah karbon atau emisi dari berbagai aktivitas (baik industri atau non industri). Pemerintah telah menetapkan 5 prinsip utama dalam mendukung program NZE. Prinsip tersebut antara lain peningkatan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT); pengurangan energi fosil; penggunaan kendaraan listrik di sektor transportasi; peningkatan pemanfaatan listrik pada rumah tangga dan industri; dan yang terakhir pemanfaatan Carbon Capture and Storage (CCS) (1). Sektor energi menyumbangkan 3/4 sumber emisi gas rumah kaca (3). Hal tersebut mendefinisikan bahwa sektor energi (electricity, heat, and transport) merupakan kunci utama dalam peran pencegahan dampak terburuk dari perubahan iklim


Beberapa pilar utama dekarbonisasi pada sistem energi global antara lain (4) :
- Efisiensi energi
Meminimalkan pertumbuhan permintaan energi melalui peningkatan efisiensi energi memberikan kontribusi penting di NZE. Peningkatan efisiensi juga membantu mengurangi kerentanan bisnis dan konsumen terhadap potensi gangguan pasokan listrik.
- Perubahan perilaku
Transformasi menyeluruh dari sektor energi yang didemonstrasikan di NZE tidak dapat dicapai tanpa partisipasi aktif masyarakat. Contoh perubahan perilaku yang termasuk dalam NZE antara lain mengurangi penggunaan energi yang berlebihan, peralihan moda transportasi. Ini termasuk peralihan ke bersepeda, berjalan kaki, naik kendaraan atau naik bus; serta dan peningkatan efisiensi material.
- Electrification
Penggunaan langsung low‐emissions electricity sebagai pengganti bahan bakar fosil merupakan langkah penting dalam NZE. Electrification diproyeksikan dapat berkontribusi sebesar +-20% dalam total pengurangan emisi yang akan dicapai pada tahun 2050.
- Renewables
Energi terbarukan merupakan pusat pengurangan emisi pada energi listrik yang dapat memberikan kontribusi besar untuk mengurangi emisi pada bangunan, industri, dan transportasi baik secara langsung maupun tidak langsung.
- Hydrogen and hydrogen-based fuels
Fokus awal penggunaan hidrogen pada NZE adalah konversi penggunaan energi fosil menjadi hidrogen rendah karbon dengan langkah praktis yang tidak memerlukan transmisi baru dan infrastruktur distribusi dalam waktu singkat.
- Bioenergy
Penggunaan modern solid bioenergy meningkat sekitar 3%/tahun hingga tahun 2050. Pada sektor kelistrikan, bioenergy menyediakan pembangkit rendah emisi yang fleksibeluntuk melengkapi pembangkit dari PV surya dan angin serta menghilangkan CO2 dari atmosfer apabila dilengkapi dengan CCUS (carbon capture, utilization and storage)
- CCUS (carbon capture, utilization and storage)
CCUS dapat memfasilitasi transisi ke zero CO2emission dengan cara menghilangkan CO2 dari atmosfer dengan menggunakan BECCS (bioenergy with carbon capture and storage) dan DACCS (direct air capture with carbon capture and storage)
PT Rifas Tabar Indonesia sebagai konsultan yang andal dalam pengelolaan lingkungan akan memberikan pendampingan kepada Perusahaan Anda untuk berpartisipasi aktif terhadap program Net Zero Emission.
Sumber: